Si Buta dari Beji|Satria FU 250cc|Performa Racing Buat Harian Turing

Si Buta dari Beji, Satria FU 250cc | Performa Racing Buat Harian Turing !

Pada beberapa artikel sebelumnya, saya sempat mengulas tentang beberapa Satria FU harian yang sudah mengalami modifikasi pada mesinnya, mulai dari sekedar stroke up 165cc, sampai 200cc dan 220cc.
Apakah menurut pembaca, fu fu yg saya ulas itu sudah terlalu extrim untuk dipakai harian?
hmmm, tunggu sampai anda selesai baca profil Satria FU yang satu ini. :D

Si Buta dari Beji, begitu saya dan kawan-kawan biasa menjuluki Satria FU kelahiran 2007 ini. Sejauh yg saya ingat, perkenalan pertama saya dengan si buta dan pemiliknya -seorang pria muda yg biasa disapa Moja- terjadi pada suatu malam sekitar pertengahan 2009. Malam itu saya dan teman teman FUers dari ssfc sedang rolling kunjungan ke chapter bekasi, namun ditengah jalan motor saya entah kenapa mati karena hilang api (belakangan baru diketahui cuma karena koilnya eror). Saat pulang dari bekasi, motor saya pun terpaksa disetut bergantian dan akhirnya mampir ke workshop D2M kalimalang untuk check up..
Karena waktu sudah larut malam motor saya pun harus nginap, jadi saya perlu tumpangan pulang ke kostan saya di kalibata. Saat itulah, diantara rombongan teman teman yg ada saat itu, Moja yang lebih dahulu menghampiri dan menawarkan, “Bareng gw aja bro, tapi lu yg bawa ya?” begitu ujarnya sambil menyerahkan kunci motornya. Saya pun mengiyakan walau belum terlalu mengenalnya saat itu, karena dia pun terhitung baru bergabung di ssfc. Saya yang tidak terbiasa membawa FU dgn stang jepit seperti si buta dibuat kikuk dan kagok sepanjang jalan, sementara empunya motor asyik nemplok di belakang sambil merokok, asyemmm.. :)

Sepanjang perjalanan dari kalimalang ke kalibata, kami pun mengobrol santai. Si buta yang masih berbodi lengkap kala itu terasa cukup enak powernya dikendarai.
“Kok speedometernya di tutup mika bro?” saya bertanya.
>>Biar gak takut kalo ngebut pak’ begitu jawab moja enteng saat itu. ‘Hehehe’ saya hanya nyengir saja dalam hati mendengar jawaban moja.
“Motornya enak juga nih tenaganya, udah modif apa aja?” lanjut saya bertanya.
>>Mmm..udah bore up sih..pake seher scorpio, ama maen kem juga, yang garapnya bengkel di daerah depok’ Jawab moja kemudian.
Weh, keren jg nih anak, pikir saya saat itu. Motor gw aja masih standar 150cc..die udah maen bore up scorpio-an…ckckck

Obrolan pertama kami malam itu tak berlangsung lama, karena saya turun duluan di kalibata, sementara moja melanjutkan perjalanan pulang ke kediamannya di beji, depok.

Mudah ditebak, dari pertama mengenalnya, sudah terlihat kayaknya memang Moja termasuk FUers yg seneng modif dan doyan ngebut. Pernah suatu malam selesai acara mubes klub di mt haryono, dia minta ikut ke kostan saya, katanya pengen nyobain “keluar malem” bareng saya. hehe…ada ada aja. Suatu waktu jg saya pernah mendengar waktu lagi rolling bareng, dia malah keluar barisan trus ngacir duluan dua-duaan sama partner sehobinya, sesama adrenailn junkies saat itu yg gak lain dan gak bukan, si blackpearl wildan. Sampai akhirnya sekalian saja saya undang mereka berdua, saya tunjukan tempat yg lebih leluasa buat mereka. Tuh, daripada lu bedua kebut2an lagi rolling, dikomplen orang banyak, mending sini aja deh gw wasitin sekalian gmn? Ehh..Dasar emang doyan, bukannya segen, mereka malah girang trus ketagihan. hehehe

Awal 2011, saat saya dan kawan kawan lain pertama kali mencicipi sirkuit sentul, si buta hanya jadi penonton saja. Situkang kebut ini terpaksa hanya pasrah jadi tukang foto sementara dulu, termasuk saat saya test bareng dengan ninja RR disana, ya moja inilah yang secara kebetulan menjepret moment itu. Entah mungkin karena gatal ingin ikut turun langsung, selang berapa lama setelah menonton latihan di sentul, dia pun mengutarakan niatnya untuk membangun ulang si buta dari awal lagi. Dan setelah beberapa kali berdiskusi dengan kawan kawan yang lain, moja akhirnya memutuskan untuk menyerahkan garapan si buta ke tangan Jabrik, tuner utama Jabrik Motor dari bilangan Kalibata, Jakarta selatan. Spek yang dia minta untuk si buta saat itu pun tak main main; spek mesin komplit setara motor drag. Tak lama, setelah semua hitung gitungan matang, si buta pun resmi masuk pesantren untuk menjalani pembedahan total.

Sekian waktu berlalu, setelah cukup lama semedi di kawah candradimuka Jabrik Motor, si buta keluar dengan amunisi mesin yg berubah drastis. Spek lengkapnya akan saya sampaikan nanti di akhir artikel. Tapi sebagai gambaran, kapasitas mesin si buta saat itu membengkak menjadi 228cc. Pintu masuk bahan bakar dan keluar pembakaran yang standarnya hanya 22/19, dilengserkan dan diganti klep lebih besar 26 In /22 Out. Kem standar dimodif ulang. Karburator PE28 direamer lagi. Tak ketinggalan gearbox ratio dari gigi 1 – 6 juga dihitung ulang untuk mendapatkan perbandingan primer dan sekunder yang lebih rapat.

Buat saya, Spek seperti ini bisa dibilang spek gila. Terutama karena moja tetap ngotot untuk memakai spek ini untuk harian dan kopdar seperti biasa. Bayangkan saja, langkah piston standar si buta yg tadinya hanya 48,8mm didongkrak drastis menjadi 64,8mm. Pada awalnya, mekanik memberikan saran supaya mesin ini jgn lagi diandalkan untuk harian, toh,,,moja tetap membandel. Begitu selesai digarap, si buta langsung diboyong yang punya pulang ke depok, dalam kondisi nyala. Bahkan menurut cerita dia, sempet sempetnya waktu reyen godain ninja sepanjang jalan margonda depok. hadehhhhh…

Photobucket

ketika si buta sudah keluar bengkel, kebetulan saya dan kawan kawan jg ada agenda ikut latihan bareng lagi disentul. Jadilah si buta pun kami daftarkan, itung itung mengetest performa mesin baru si buta. Kebetulan pula saat itu, panitia membuka kelas drag campuran walau tema nya hanya untuk latihan sebagai pelengkap sesi latihan road race. Di hari H, kocak juga saat banyak motor buntungan terlihat datang pakai mobil bak, si buta dengan cuek datang bareng rombongan fu lain, dikendarai empunya dengan kondisi apa adanya, nyala dari Jakarta ke sentul :D. Itung itung manasin mesin kata moja.. dasar keras kepala. hehehe

Pada event latihan itu, panitia menerapkan sistem latihan drag yg terbilang unik saat itu untuk sesi latihan drag. Setiap pendaftar drag diberikan 1 koin sebagai modal ikut start. Dengan sistem sudden death, setiap peserta yg kalah dianggap gugur dan harus menyerahkan koinnya pada lawannya. Terus begitu hingga hanya dua tersisa dua motor yang pegang koin sebagai partai final. Seperti arisan saja :D

Singkat cerita, pada acara latihan bareng itu, setelah sekitar 5 kali diadu, si buta dinobatkan sebagai juara 1 oleh panitia, karena tak sekalipun mengalami kekalahan. Performa si buta saat itu cukup memuaskan moja walau hanya bertajuk event latihan saja. Mengingat banyak jg motor buntungan 4tak dan 2 tak yg turut serta saat itu seperti force1, satria 2tak, rx king, dan rgr.
Photobucket
Photobucket

Setelah cukup puas menguji performa mesin pada trek ratusan meter, Moja bertekad untuk menguji juga ketahanan mesin 228cc si buta pada trek ratusan kilometer. Dan moment itu datang pada Juli 2012, saat Moja nekat mengikutsertakan si buta dalam sebuah agenda touring bersama 7 orang kawan FUers lain dari ssfc jakarta untuk menhadiri acara ulang tahun ssfc Semarang. Sebuah ide gila menurut saya, membawa mesin full spek racing 228cc untuk menempuh perjalanan Jakarta – Semarang yang kalo dihitung hitung berjarak sekitar 800km pulang pergi. Banyak orang – termasuk saya sendiri- awalnya pesimis/ragu si buta sanggup menjalani rute sepanjang ini. “Boro boro sampai semarang, baru sampai bekasi aja jangan jangan udah ambrol tuh mesin” begitu kira kira pikir saya saat itu.

Siapa sangka siapa nyana, Si buta ternyata berhasil mementahkan semua prediksi dan membuktikan kebandelannya. Moja dan si buta sukses menyelesaikan perjalanan Jakarta – Semarang dan Semarang – Jakarta hampir tanpa hambatan berarti. Sedikit problem hanya sempat muncul di bagian selang oil cooler yang ternyata bautnya sudah selek sehingga oli sempat bocor. Tapi masalah minor ini kemudian dapat cepat teratasi dan perjalanan bisa dilanjutkan kembali.

Pic : Si Buta 228cc goes to Semarang, Rest point @SPBU seribu toilet -Pantura
Photobucket

Fenomena satria FU 228cc yang dipake turing ini sempat pula menarik perhatian dan dimuat di tabloid Motorplus. Berikut ini artikelnya :
http://motorplus.otomotifnet.com/read/2012/02/22/328291/99/10/Suzuki-Satria-FU-150-228-cc-Buat-Turing

Ada cerita cukup menarik saat si buta berada di semarang yg gak diketahui banyak orang. Apa itu ? Begini ceritanya pemirsa …halah :D
Saat tiba di semarang, si buta mendapatkan permintaan dari seorang kawan ssfc semarang yang sepertinya sangat tertarik ingin menguji langsung si buta. Kawan tersebut kebetulan memiliki 2 motor, satu FU dan satu lagi ninja, dua duanya korekan. Konon katanya, ninja nya ini termasuk disegani dilintasan semarang. Entah benar atau tidak, yg jelas dasar memang empu si buta doyan sama beginian..ajakan ini diladeninya tanpa pikir dua kali. Jadilah, mesin si buta yang sudah kelelahan menempuh perjalanan 400km lebih itu, ditest lg dua kali run dalam satu malam dengan dua lawan berbeda; 1 FU, dan 1 Ninja.

Video test si Buta vs FU di semarang. Buta unggul didepan.

Video test si Buta vs RR full spek di Semarang, si buta menempel ketat kayak lem superglue di buntut Ninja RR

Keberhasilan si buta meyelesaikan misi turing perdana ke semarang ini rupanya masih belum cukup memuaskan keinginan sang empu. Moja menyimpan keinginan untuk mengetes timing si buta pada lintasan resmi 201m. Kebetulan saat itu ada event drag resmi (sy lupa tp kalo tidak salah di senayan), maka didaftarkanlah si buta. Tujuannya memang tidak muluk muluk, hanya sekedar ‘ngetime’, hitung hitung nambah pengalaman.
Untuk keperluan ini, maka dilakukanlah sedikit pembenahan dan penyesuaian kembali pada mesin si buta terutama pada sektor dapur pacu dan suspensi. Piston kawasaki boss 67mm ditingkatkan 3mm ke ke ukuran 70, sedangkan shockbreaker belakang diganti dengan suspensi yang lebih flexible setelannya supaya lebih enak buat lurusan.

Trus, bagaimana hasilnya ?
Harus diakui..level kompetisi 201m drag resmi memang bukan main main. Perlu jam terbang/pengalaman yg tinggi, totalitas, serta keseriusan dari seluruh team, baik pemilik motor, tuner, serta joki.
Untuk standar spek motor balap resmi yang mendewakan timing 201m sebagai tolak ukur performa mesin, catatan timing si buta si buta saat itu hanya mampu mencatatkan 8 kecil. Sempat masuk putaran final (start dua kali), namun gagal start di putaran 2 karena masalah teknis di sektor transmisi. Ya, untuk percobaan pemula yang baru pertama kali mencoba event resmi, time 8 kecil memang lumayan, tapi masih terpaut cukup jauh dibawah rata2 timing podium FFA250 yg biasanya menyentuh 7 detik kebawah. Perlu persiapan lebih matang jika memang si buta punya niat serius memperbaiki catatan waktu resmi.

Toh, letak keistimewaan mesin si buta memang bukan disitu pemirsa. Daya tarik utamanya justru ada pada aplikasi atau penggunaan mesin spek balap tersebut yang nyeleneh, unik, bahkan bisa dibilang nekat :D
Lumrahnya, spek FU seperti ini hanya dikhususkan untuk race only alias gantungan saja, entah itu khusus drag resmi, ataupun buat ajang liaran. FU 250cc full spek gantungan bukanlah barang asing di dunia balap, tapi fu spek seperti itu dipake harian turing ???
Hmmmm…rasa rasanya, ya baru si buta ini yang berani begitu.

Memangnya seperti apa sih spek lengkap si buta yang dipakai harian turing itu?
Ini dia, spek lengkap si Buta dari Beji yang terbaru:

  • Piston: Forged RRGS 70mm
  • Stroke up 8mm (naik turun 16mm), Total Stroke : 64,8mm
  • Total Kapasitas Silinder : 250cc
  • Porting Polished
  • Klep Gambot : In 26mm, Ex 22mm
  • Noken As: Custom by Jabrik
  • Gearbox : Closed Ratio
  • Karburator Keihin PE28 reamer 30mm
  • CDI : LEK
  • Koil : Standar
  • Busi : Iridium IU27
  • Knalpot : DBS
  • Shockbreaker : YSS Z Series
  • Rantai tipis SSS 415
  • Final Gear/Sproket : 15/34
  • Velg Takasago Excel 120 (Depan) – 140(Belakang)
  • Ban Yoko (depan) – Mizzle Power Tread (Belakang)


“Ahh, itu kan cuma dipake turing sekali aja bro.. Belum bisa dibilang membuktikan ketahanannya lahh…”

Hehehe…sebentar dulu pemirsa, cerita turing si buta tidak berakhir hanya Jakarta – Semarang – Jakarta saja lho. Perjalanan si buta masih terus berlanjut. Dengan spek barunya yang kini bahkan lebih extrem lagi -full spek 250cc- Empu si buta masih tetap bersikukuh dengan keyakinannya, bahwa FU ini masih mampu dipakai harian seperti waktu masih 228cc. Dan memang begitulah kenyataanya, sampai hari ini, sibuta masih rajin berbaur kopdar bareng dengan FUers yang lain, rolling bareng (saya msh ingat waktu si buta250cc jadi petugas sweeper saat rolling akbar jambore ssfc di ragunan), mengikuti kegiatan kegiatan klub diluar kota. dan aktivitas harian lainnya.

Bagaikan makhluk Amphibi yang sanggup hidup di dua alam, seperti itulah mungkin kurang lebih gambaran identitas si Buta. Sekali waktu terlihat di trek seperti layaknya motor balap, di kesempatan lain terlihat mandi lumpur hujan hujanan kayak motor ojek. hehe.
Harian bisa, Racing bisa, Turing bisa. Semua dalam satu mesin. All in one machine.

Foto: FU Amphibi 250cc.
Satria FU 250cc turing balap oke
Yang masih hangat kejadiannya, adalah perjalanan si buta di bulan September 2012 kemarin, dimana si buta 250cc dua kali melakukan perjalanan ke luar kota dalam rentang waktu berurutan. Yang pertama, si buta turut serta dalam rombongan ssfc jakarta mengikuti kegiatan klub di Ciater Subang pada tanggal 14-16 September.
Kemudian, hanya selang beberapa hari sesudahnya, empu si buta yang kebetulan jg bertugas sebagai koordinator divisi turing di ssfc pusat, mendapatkan tugas untuk menghadiri acara Anniversarry ssfc Solo. Seperti biasa, tanpa ragu moja pun meyanggupinya. Dan jadilah, pada tanggal 21 September kemarin, dgn hanya ditemani 1 orang kawan FUers sebagai tandem, si buta 250cc berangkat dari Jakarta menuju Solo, dengan spek resing lengkap seperti yang tertulis diatas. Wuedan tenan.

Turing hanya berdua, tentu sangat berisiko apabila ada problem mesin dijalan. Toh..moja tetap pede menghadapi resiko ini.
Hasilnya? Luar biasa pemirsa. Untuk kesekian kalinya, si buta memberikan pembuktian langsung ketangguhan mesinnya. Trek pulang pergi Jakarta – Solo – Jakarta yang berjarak tak kurang dari 950 kilometer dilahap dengan sempurna tanpa ada masalah apapun pada mesinnya.

Foto: Duet touring si Buta feat blackghost to Solo.
Photobucket

Photobucket

Sebentarrr…bagaimana dengan konsumsi bensinnya ? Pasti boros gila nih si buta…??
Eitt…justru sebaliknya pemirsa, catatan konsumsi bensin si buta selama perjalanan ini tak kalah mencengangkan lho. Berdasarkan kesaksian yang saya dapat dari bro Ipoel, -tandem turing si buta saat kesolo- si buta hanya mengisi bensin 5x sepanjang perjalanan, sementara tandem FU nya yang masih 150cc justru mengisi bensin lebih sering, sampai 7x
Dihitung hitung, Si buta hanya menghabiskan 12 liter pertamax untuk perjalanan jakarta – solo. Dengan jarak Jakarta – Solo yg berkisar 477km, dapat dihitung rasio konsumsi bensinnya sekitar 1:40 ltr/km. Angka yg sangat irit untuk ukuran konsumsi bensin satria FU dengan spek seekstrim itu, karena kita tahu standarnya saja konsumsi bensin FU berkisar hanya 1:32 – 1:35 ltr/km.

Si Buta & Blackghost @spbu kandanghaur

Begitulah pemirsa, modifikasi FU saat ini memang sudah demikian maju dan pesat perkembangannya.
Jika dulu, untuk sekedar bore up saja, banyak FUers yang ragu dan khawatir FUnya tidak kuat lagi dipakai harian. Sekarang ini, FU 200cc malah sudah jadi barang jamak alias lumrah seliweran dijalanan sehari hari, ikut bermacet macetan ria dengan motor standar lainnya. Dulu, langkah stroke up 2mm saja di FU dianggap extrim dan berisiko tinggi. Sekarang, stroke up 3-5mm di FU sudah jadi hal biasa dan gak aneh dipake harian. Gak keliatan bedanya antara FU standar 150cc sama FU bore up.

Tentu, hanya segelintir orang saja seperti moja yg mau dan berani memilih jalan modifikasi FU se-ekstrem ini. Buat sebagian besar FU rider, 1/8 nya saja dari ubahan mesin seperti si buta rasanya sudah lebih dari cukup untuk mencapai peningkatan performa FU yg didambakan.
Setidaknya, kisah si buta dari beji ini dapat memberikan gambaran tentang sejauh mana batas batas ketangguhan mesin Suzuki Satria F150, The Fighter Underbone.

Wassalam,
Satria 155

Last Pic: Moja feat Si Buta: Satu raga, dua dunia :D

Update foto terbaru si Buta.
Makin nekat, sekarang dipake mereng-mereng juga. New look, tp tetap dgn spek 250cc nya.

Satria FU 250cc road race
250cc stroke up buat cornering

2 Responses to “Si Buta dari Beji|Satria FU 250cc|Performa Racing Buat Harian Turing”
  1. kaka October 8, 2012
    • Satria155 October 8, 2012