Tak pernah terpikir olehku…
Tak sedikitpun kubayangkan…

—–
Begitu bunyi sepenggal lirik lagu pembuka dari ST 12..

Satria155Ya, memang tak pernah terlintas di bayangan saya sebelumnya, sampai saya menyukai dunia otomotif khususnya roda dua a.k.a sepeda motor seperti sekarang ini. Mungkin karena waktu jaman saya sekolah SMP dan SMA, sepeda motor masih termasuk barang exclusive. Tak seperti lumrahnya anak sekolah jaman sekarang yang kemana mana naik motor, Siswa kelas medioker seperti saya waktu dulu bahkan gak pernah bermimpi bisa keren kerenan bawa motor sendiri ke sekolah, lha kebanyakan bapak-bapak kami juga dirumah pada gak punya motor, termasuk bapak saya. Jadi ya apa yang bisa dibawa? hehe… Sekedar mergokin saya belajar naik motor tetangga saja, bapak sudah nyemprot saya abis abisan. Boro boro mau beliin anak sulungnya ini sepeda motor..Jauhhh dahh… 😀 “Sudah!, kamu sekolah saja yang bener sana!, gak usah banyak gaya pengen motor segala” omel beliau ketika itu.

Toh, setelah 3 tahun saya menyelesaikan pendidikan SMA di jurusan IPS, dilanjutkan 4 tahun kuliah di jurusan Pariwisata (sama sekali gak ada hubungannya sama otomotive) akhirnya bapak saya luluh juga, dan dengan lapang dada menghadiahkan sebuah sepeda motor kpd anaknya ini buat modal keliling kota bandung melamar-lamar pekerjaan pertamanya. Sebuah motor bebek produksi China entah Taiwan (saat itu lagi musim mocin) bermerk KASEA yang tongkrongannya bagai pinang dibelah dua dengan Honda Supra X , mirip banget deh pokoknya. 🙂

Ya sudahlah, pikir saya saat itu. Yang penting intinya saya akhirnya kesampaian juga punya kendaraan pribadi :). Dan memang betul, mocin itu ternyata membawa berkah buat saya. Setelah 3 bulan tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang ‘layak’ di kota bandung, saya beranikan diri untuk mengembara bersama mocin tercinta untuk mencari peruntungan – mengadu nasib di Ibukota Indonesia tercinta, Jakarta. Doa dan berkah dari orang tua yang terefleksikan dalam setiap deru mesin Kasea ini mengantarkan saya pada pekerjaan baru yang cukup memuaskan di jakarta, sampai mempertemukan dan menemani hari hari kencan saya dengan seorang wanita yang akhirnya saat ini menjadi istri dan ibu dari anak saya…. lebayyyy haha.

Apa daya, 8 Tahun yang lalu, sang kasea mulai sering sakit sakitan. Reputasi buruk onderdil made in China, diperparah dengan keawaman dan ketidak mengertian saya tentang perawatan sepeda motor semakin mempercepat akhir siklus hidupnya. Berulangkali mogok dijalan, seringkali ngadat tanpa mengenal waktu, entah itu pagi hari disaat diburu waktu berangkat kerja, atau di tengah malam saat sedang asyik keliling kota dengan sang pujaan hati.

Selama periode itu, saya pun mulai bimbang (kalau kata anak muda jaman sekarang: galau ^_^) mempertimbangkan kandidat pengganti sang kasea yang sudah renta. Postur tubuh saya yang ‘langsing’ – kata samaran dari kerempeng – membuat saya tidak terlalu tertarik dengan motor bertangki alias motor laki-. Entah kenapa, model motor laki yang tersedia dipasaran saat itu pun relatif kurang menarik, Terasa kurang cocok dengan ekspresi jiwa muda saya saat itu..halah. 😀

Di rentang budget saya saat itu, Hanya tersedia pilihan thunder 125, tiger, dan scorpio. Belum ada inovasi ‘sporty look’ yang ngetrend ditawarkan pabrikan seperti sekarang ini. Belum ada Vixion, New Mega Pro, Byson, Pulsar, Tiger Revo, New Scorpio dsb. Hanya CBR 150 dan Ninja R/RR yang terasa menarik, tapi dua kandidat ini saya coret karena tidak masuk akal harganya menurut kapasitas dompet saya saat itu.

Hingga akhirnya pada suatu malam, ketika berboncengan pulang nonton bioskop bersama sang kekasih, tak sengaja di lampu merah mata saya menangkap sesosok sepeda motor bebek aneh berwarna merah turut mengantri tak jauh dari kasea saya berada. Selepas lampu hijau, saya tanpa sadar tergerak untuk membuntuti motor aneh yg menarik perhatian saya tersebut. Kebetulan sang rider bebek merah didepan juga sedang berjalan santai bersama boncengannya. Sepanjang jalan, saya perhatikan motor itu dengan seksama, dari ujung kaki ke ujung kepala, eh ujung spakbor sampai batoknya. Ladalah, mungkin ini kali yang orang bilang cinta pada pandangan pertama. Entah kenapa saat itu juga tekad saya langsung merasa bulat dan mantap, ‘Ini dia motor yang akan menjadi pengganti sang kasea”.

Esoknya saya pun mencari informasi kesana kemari, selidik punya selidik akhirnya saya tau juga motor apa itu. Orang orang menyebutnya Satria FU, ayam jago jebolan Suzuki yang diimpor dari Negeri Gajah Putih. Di thailand sana dikenal sebagai Raider 150. Sempat tercengang juga begitu mengetahui harga price listnya saat itu, 17 Juta rupiah. Terasa mahal sekali untuk ukuran harga motor saat itu, Jauh diatas rata rata harga motor bebek lokal Indonesia yang ada dipasaran. Toh, hal itu tdk mengurangi semangat muda saya yang sudah meluap dan terlanjur jatuh cinta pada tampilan bebek tengil ini.

Lucu juga mengingat masa masa itu, di beberapa kesempatan yang lain, setiap kali berpapasan atau ketemu dengan motor satria dijalan, seringkali saya dengan sengaja mengintil hanya sekedar untuk memandangi fu, hehe. Dan akhirnya, setelah cukup lama bersabar untuk menabung DP, penantian saya berakhir. pada suatu sore sepulang kerja, satria fu idaman saya akhirnya datang juga ke teras rumah kontrakan saya. Dan 1,5 tahun kemudian, setelah pelunasan angsuran terakhir, untuk pertama kalinya saya memegang BPKB atas nama saya sendiri, dihasilkan dari hasil jerih payah keringat sendiri. Terasa begitu indah buat golongan orang penghasilan pas pas an seperti saya..
#lebayy lagii .. 😀

Singkat kata singkat cerita, Berawal dari kepemilikian Satria FU itulah, menjadi titik tolak perkenalan dan ketertarikan saya pada dunia two wheel dan bikers secara lebih intense. A whole new world. Karena dulu buat saya sepeda motor hanyalah sebuah alat transportasi untuk mempermudah perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat yg lain, titik. Tak lebih dan tak kurang.

“Mendadak Bikers”, mungkin sebuah judul yang tepat u/ menggambarkan nyemplungnya saya yg secara tiba-tiba ke dunia roda dua. Sebagai orang awam yang buta tentang otomotif, saya pun mencoba mengakrabkan diri dengan dunia ini, bergabung dengan komunitas dan forum motor baik online maupun kopi darat, bergaul dengan mekanik dan ‘anak bengkel’, mencicipi dunia balapan liar ibukota, dan segelintir aktivitas berbau otomotive lainnya. Walhasil, karena totally newbie..saya lebih banyak berkerut kening dibandingkan paham saat mencoba mencerna berbagai informasi baru yang coba diserap dengan susah payah oleh memori dan nalar otak saya yang terbatas ini. Tidak hanya tentang berbagai istilah ‘permotoran’ yang asing di telinga saya, juga termasuk berbagai fenomena yg terjadi di dunia bikers. Dinamisme Klub Motor yang seringkali tak kalah serius dan tak kalah seru dibanding organisasi massa bahkan partai politik sekalipun. Nilai dan norma norma pergaulan antar bikers, brotherhood dengan berbagai plus minus aplikasi nya. Determinasi touring ribuan kilometer yang kadang membuat saya menggeleng kagum. Debat debat komparasi brand diberbagai forum bikers yang seringkali lebih seru dan panas dikalangan pengguna dibanding persaingan antar pabrikan-nya sendiri. Dan berbagai pernak pernik dunia bikers lainnya.

Whatsoever, I Like this ‘all about bikers’ stuff. Bikers are Bikers, no matter how old are you, how rich or poor are you, whether you are a manager or office boy in your company. Fakta bahwa Bikers tidak memandang usia, jabatan, gender, dan status sosial lainnya membuat saya betah mengakrabi lingkungan ini.

Dan begitulah, ada saja kemudian cerita baru yang tercipta dalam proses perkenalan saya dengan dunia roda dua, sampai hari ini. Teman klub yang datang dan pergi silih berganti, motor-motor baru yang semakin canggih dan trendi, inovasi dan kreasi para mekanik dalam negeri yang semakin ciamik. Semua bikers pasti punya cerita. Atas dasar itu, walau hanya sekedar pencinta dan pemerhati, saya berharap Blog ini dapat menjadi tempat saya bertukar cerita dengan sesama pecinta roda dua lain pada umumnya, dan tentu saja sesama pencinta Satria FU pada khususnya. Terutama untuk para riders yang juga awam atau baru mulai mencoba mengenal ‘permotoran’ seperti halnya saya.

Sekali lagi, blog ini hanyalah tempat untuk bertukar Cerita.
Layaknya sebuah cerita, harap maklum kalau tak melulu berisi data.
Terkadang mungkin pembaca berpikiran sama, bisa jadi juga berbeda.
Yah, namanya juga Cerita 🙂

Jika memang terselip celoteh yang kurang berkenan,
atau tampilan yang tak sedap dipandang,
Sudi kiranya pembaca maafkan
Maklum pemula yang sangat kurang pengalaman.

Salam Roda Dua,
Satria155