Celoteh ngasal si rider satria FU; The Good,The Bad,and The Ugly

Share Artikel Ini


Pernah melihat iklan komersial Satria FU yang ada adegan FU beradu kebut dengan kereta api? Hmmm..sepertinya cukup jelas bahwa pihak suzuki memang mengusung tema power and speed sebagai brand positioning alias pencitraan utaman pada produk satria F150. Karena memang, jauh sebelum FU menjadi andalan penjualan Suzuki seperti sekarang ini, image ‘hyperunderbone’ sudah lebih dulu melekat pada sosok satria FU.
http://youtu.be/MgCKKvIrG8A
Seingat saya dulu di awal kemunculannya FU CBU (completely built up alias diimpor utuh dari Tahiland), boro boro ada iklannya di media televisi, wong display atau brosur nya pun di delaer rasanya gak ada. Baru kemudian ketika mulai diproduksi versi CKD nya (completey knock down), saya menemukan iklan satria FU disalah satu kolom iklan surat kabar, kalo tidak salah waktu itu koran Kompas, Aneh juga ya..iklan FU kok di koran kompas,,hehe. Mungkin biar lebih berkesan sophisticated dan berkelas kali 🙂
Walhasil, buah dari berbagai jurus marketing dan promotion yang dilancarkan pabrikan, semakin mengukuhkan citra satria F150 sebagai sebuah ‘bebek kencang’.Dasi sisi demand, segmen pasar / konsumen yang menyerap penjualan satria FU dimasa sekarang sepertinya sudah semakin melebar dilihat dari profil demografinya, misalnya dari kategori rentang usia dan gendernya.Sekarang ini bukan hal aneh lagi anak muda umur belasan tahun yang belum punya KTP, kemana mana pake FU. Sementara dulu, profil pemakai FU pada umumnya yang saya perhatikan didominasi rentang usia 19 – 26 tahun lah, kisaran usia kuliah atau pekerja, dan hanya segelintir saja yang masih pelajar. Ketertarikan kaum perempuan terhadap produk satria FU juga sepertinya meningkat, entah karena dianggap unik atau tomboy atau keren. Entahlah. Sampai sampai Suzuki secara khusus menyiapkan variasi striping dengan motif seorang wanita untuk mengakomodir selera segmen ini.

Lho kok jadi bahas soal iklan, brand positioning, citra, dan segmentasi pasar sih, apa hubungannya sama sendal, eh judul artikel? sabarrr..tadi kan baru preambule alias pendahuluan nya, hehe

Point saya begini; citra bebek kencang yang sudah dan sekarang semakin lekat pada merek satria FU, dikombinasi dgn karakter segmen pasar yang didominasi anak muda pencinta kecepatan, seakan jadi sebuah pisau bermata dua yang mempengaruhi baik dan buruknya persepsi publik terhadap imej para FU rider. Populasi FU yg sekarang sudah begitu ramai dan populer di jalanan, jg membuat setiap tindak tanduk ridernya semakin mudah dikenali dan menarik perhatian.
Pernah mendengar komentar miring bahwa FU itu motor nya para abg ? sekali waktu saya juga pernah baca cibiran bahwa katanya fu tuh motor alayers yg seruntulan ? Hmmm..semoga saja ini cuma pandangan satu dua orang saja, dan bukan persepsi para bikers pada umumnya. Karena saya sebagai seorang rider FU, tentu panas jg kuping ini kalo denger tudingan seperti itu..

Menyimak trend perbincangan dalam berbagai forum komunitas FUers, baik online maupun kopi darat, saya dapat memahami bahwa memang sebagian besar profil pengguna FU adalah para penyuka kecepatan. Modifikasi pun lebih banyak dibahas mengenai aspek performa mesin, hanya sebagian kecil saja yang lebih menyukai modifikasi tampilan. Apakah betul para FUers penggila performa mesin ini cenderung berperilaku kurang simpatik pada gaya berkendara sehari harinya ? bisa iya bisa tidak.
Saya percaya kok, kalangan bikers pada umumnya mengerti, bahwa perilaku rider sebuah brand tidak bisa digeneralisir seakan akan semuanya begitu. Karena apapun jenis motornya, perilaku dijalanan akan kembali pada self control dan kesadaran pribadi masing masing individu.

Kalaupun benar bahwa mayoritas FU rider senang memacu tunggangannya, saya rasa wajar wajar saja, selama dapat memilih dan memilah waktu dan tempat yang sesuai dan tidak merugikan orang lain.
Setiap produk yang dilepas ke pasaran pasti sudah dikonsep dengan keunggulan tertentu oleh produsennya, untuk kemudian ditawarkan kepada target konsumennya. Istilah kerennya competitive advantage. Termasuk sebuah kendaraan roda dua.
Misalnya yang diunggulkan dari sebuah motor A adalah “Irit dan minim perawatan’ maka tentunya si pembeli akan berusaha membuktikan bahwa produk yang dia beli memang benar sesuai ‘iming iming’ yang dijanjikan’ , dalam hal ini yaitu irit dan minim perawatan.
Begitu pula dengan Suzuki satria F150 ini.

Seperti sudah saya singgung pada pendahuluan, Suzuki mengkonsep dan menawarkan FU ke khalayak roda dua dengan keunggulan mesin sebagai competitive advantage nya.
Dan memang saya akui, berkaca pada proses pengambilan keputusan pembelian yang saya alami, selain tampilan ayam jago nya yang unik, saya memutuskan memilih FU karena tergiur keunggulan performa mesinnya dibandingkan competitor underbone yg lain. Tagline Hyperunderbone – Mesin 150cc DOHC – 4Valve – 6 Speed; buat saya sih seakan sebuah ‘kemewahan’ yg setara motor sport seperti halnya CBR150 tapi cukup ditebus dengan harga hanya setengahnya. Tidakkah ini menggiurkan ?

Jadi bisa dipahami kalau tanpa iklan jor joran pun, penjualan satria FU terus stabil. Karena untuk segmen pasar anak muda yang mengutamakan performa, di rentang daya beli 17-19 jutaan, FU bisa dibilang pilihan yang paling rasional. Karena dengan patokan budget segitu, tentu sulit bila berharap bisa memperoleh motor performa tinggi seperti tipe sport sekelas CBR150 apalagi Ninja. Kalopun dipaksakan paling hanya bisa mendapat motor sport seken, itupun masih berat karena biasanya harus ditebus tunai/cash.

Begitulah, Ketika seorang konsumen mengidamkan sebuah kendaraan yg digadang gadang sebagai mesin performa tinggi – apapun itu -, dan kemudian akhirnya motor idaman itu hadir jadi miliknya. What will he do to prove that its really worth as he expected ?
Tentulah dia perlu pembuktian bahwa apa yg dia beli memang benar sesuai dengan apa yang diharapkan.
Disinilah kedewasaan setiap orang berperan. Ketika si motor sudah ada di genggaman, Adalah tanggung jawab pribadi sipemilik untuk menentukan bagaimana menggunakan dan memperlakukan kendaraannya.
It’s totally a personal responsibility.

Terus terang, saya pribadi sih masih lebih respek kepada para kalong rider FU yang memilih lari ke dunia underground balap liar (bali) untuk menyalurkan hasratnya, daripada sebagian lain yang katanya mencibir balapan liar – anti keluar malam jg- tapi malah sewaktu waktu juga cuek bebek seruntulan di siang hari bolong, entah itu perjalanan kerja, sekolah, kuliah, jalan jalan dsb. Menurut saya, mereka yang memilih bali setidaknya terlokalisir diarena tertentu saja, dan jg mereka berada ditengah “audiens” yg sudah saling memahami satu sama lain. Walaupun dijalan raya tp mereka memilih waktu larut malam bahkan dini hari yang notabene lalu lintas sudah lengang karena kebanyakan orang lain sudah terlelap tidur.
Saya tidak bermaksud membenarkan bulat bulat aktivitas ini, tapi perilaku ngebut normal dalam’regular riding‘ sehari hari justru cenderung lebih beresiko bahaya, daripada adegan ‘a short an quick one on one battle’ yang terjadi di ajang balap liar. Karena pada situasi lalu lintas reguler, entah itu berangkat kerja , sekolah, ke pasar dll, rider akan berinteraksi dan bersinggungan langsung dengan ‘audiens’ lebih luas dan majemuk.
Tentu saja, jika memang kita termasuk golongan rider yang suka dengan kecepatan, pilihan paling baik sebagai tempat menyalurkannya adalah sirkuit. Walau mungkin akses untuk bisa mempergunakan sarana ini cukup terbatas dan tidak selalu bisa dinikmati semua rider, entah itu karena faktor jarak, waktu, maupun biaya. Silahkan cek artikel tentang Kegiatan positif di sirkuit resmi Disini

So, apakah kita akan menyalahkan pabrikan yang merancang dan membuat ‘bebek’ yg terlalu mengutamakan performa mesin, tanpa disertai program edukasi yg mencukupi sebagai penyeimbang ? Atau menyalahkan pemerintah karena tidak mampu menyediakan arena aman yang terjangkau dan memadai untuk menyalurkan hasrat ngebut para speedlovers? Entahlah…
Biarlah kita kembalikan ini pada diri kita sendiri, apakah kita akan memilih menjadi The Good Rider atau Bad Rider, asal jangan The Ugly rider aja yaa..hehehe

Keep safety & respect,
Satria155
Alay Satria FU



Share Artikel Ini
9 Responses to “Celoteh ngasal si rider satria FU; The Good,The Bad,and The Ugly”
  1. batagor September 26, 2012
    • batagor September 26, 2012
      • Satria155 September 26, 2012
  2. enth September 26, 2012
    • batagor September 26, 2012
      • Satria155 September 26, 2012
    • Satria155 September 26, 2012
  3. amangboru September 26, 2012
    • satria fu motor mesum September 26, 2012

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Google+